Yang menghancurkan tim adalah anda yang suka beradu argumen


Blogger’s column ini diisi oleh blogger terkenal yang diundang dari

luar Cybozu untuk menulis kolom yang berkaitan dengan team work.

Kali ini Mr.Eitaro Hino menuliskan tentang

“Cara beradu argumen yang membuat tim menjadi aktif”.

Jika kita bekerja dalam tim, ada kalanya terjadi adu argumen.

Di artikel sebelumnya yang berjudul Cerita tentang “tim demokrasi yang hancur”,

saya pernah menuliskan tentang permasalahan yang terjadi pada

tim yang sering melakukan diskusi. Tetapi sebaliknya,

tim yang sama sekali tidak pernah beradu argumen juga tidak sehat.

Dengan beradu argumen, sering kali bisa menemukan solusi yang lebih baik,

yang tidak dapat dicapai jika hanya dipikirkan oleh diri sendiri.

Dan ini merupakan salah satu keuntungan dalam kerja tim,

karena kita bisa meminjam “kepala orang lain”,

 

Tetapi tidak cukup jika hanya sekedar beradu argumen.

Apabila tidak berhati-hati, adu argumen bisa menjadi

penyebab yang mengacaukan team work.

Terutama jika di dalam anggota terdapat orang yang “suka beradu argumen”,

kita harus berhati-hati. Sebagian dari mereka menjadikan adu argumen

untuk mendiskusikan sesuatu yang akan dijadikan bahan adu argumen,

sehingga bisa mengacaukan langkah tim.

Daripada melakukan adu argumen yang tidak berguna seperti itu,

lebih baik dipikirkan sendiri saja.

Untuk melakukan adu argumen yang bermakna bersama tim,

ada beberapa “prasyarat” yang harus dipegang.

Berdasarkan pengalaman saya, semakin orang tersebut menyukai

adu argumen dan merasa dirinya memiliki argumen yang kuat,

dia tidak mengerti prasyarat ini.

Oleh karena itu, kali ini saya ingin berpikir sedikit tentang prasyarat

dan sikap untuk beradu argumen dengan tim.



Sebenarnya untuk apa kita beradu argumen?


Sebagai prasyarat utama, sebenarnya untuk apa kita beradu argumen dengan tim?

Paling tidak kita tahu bahwa kita melakukannya bukan untuk memenangkan

kemampuan berdebat para peserta, seperti halnya lomba debat.

Menurut saya, beradu argumen dengan tim merupakan langkah-langkah

yang diambil untuk membawa tim ke arah yang lebih baik.

Meskipun telah menerapkan argumen yang benar dan mengalahkan

pendapat semua anggota, tetapi jika hal tersebut tidak membawa

tim ke arah yang lebih baik, adu argumen tersebut tidak ada gunanya. 

Pada prasyarat ini, bisa diketahui bahwa “memenangkan adu argumen”

sendiri tidak ada maknanya sama sekali.

Seandainya anda menang dalam adu argumen dan dalam prosesnya berhasil

mengalahkan lawan bicara tetapi membuat semangatnya hilang,

akan menjadi minus besar bagi perkembangan selanjutnya.

Jika kondisi tim menjadi lebih buruk, lebih baik tidak usah melakukan

adu argumen seperti itu.



Menyalahkan nilainya 0, dikatakan lulus jika bisa diterima dari hati dan membuat lawan bicara menjadi semangat


Di internet seringkali digunakan kata “menyalahkan”, tetapi dalam kerja tim,

“menyalahkan” pada dasarnya merupakan hal yang tabu.

Secara umum, tidak ada orang yang merasa senang jika pendapatnya disalahkan.

Di dalam buku klasik tentang hubungan kemanusiaan karangan

Dale Carnegie yang berjudul “Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain”

tertulis bahwa “Satu-satunya cara untuk menang dalam adu argumen adalah tidak melakukan adu argumen”, dan menurut saya itu benar sekali.

Meskipun telah mematahkan pemikiran lawan dan menang dalam adu argumen,

hal tersebut tidak menjadi sumber penggerak untuk menggerakkan

tim ke arah yang lebih baik.

Tetapi bukan berarti lebih baik mengikuti pendapat orang lain tanpa memiliki opini pribadi.

Karena pasti akan ada situasi di mana hasil dari adu argumen mengarah

ke arah yang salah dan kita ingin mencegahnya.

Dalam kondisi tersebut, tidak hanya menyalahkan lawan dengan logika,

tetapi berikanlah pengarahan dengan ketulusan hati,

sehingga pendapat diri kita bisa diterima dengan baik.

Dalam lomba debat, kita tinggal menyerang kelemahan dari pendapat lawan.

Tetapi dalam adu argumen dengan tim, baru bisa lulus jika bisa melampaui

logika dan lawan kita bisa menerimanya dengan baik.

Jadi tidak hanya memikirkan adu argumen yang ada di depan mata,

tetapi senantiasa memikirkan juga yang akan terjadi setelah melakukan adu argumen.



Panduan untuk menghindari adu argumen yang tidak berguna


Untuk melakukan adu argumen yang bermakna dan tidak mengacaukan team work,

sebaiknya kita berhati-hati terhadap 3 hal ini.

 

Yang pertama adalah penting untuk membuang pertahanan terhadap opini pribadi.

Di dalam tim, “siapa yang mengatakan” hampir tidak ada artinya.

Karena yang diharapkan adalah mencapai hasil akhir yang baik sebagai tim,

sehingga jika ada orang yang mengusulkan pendapat yang lebih baik

dibandingkan diri sendiri, secepatnya buanglah opini pribadi anda dan

gunakan yang lebih baik. Berbeda dengan debat, meskipun opini pribadi

kita dipatahkan, tidak akan menjadi suatu kekalahan.

Apalagi dalam beradu argumen dengan tim, sebenarnya tidak ada kalah

menang secara perorangan. Buanglah harga diri yang tidak pada tempatnya.

 

Yang kedua, tidak boleh melupakan rasa hormat terhadap lawan

bicara yang mengemukakan pendapat seperti apapun.

Sebagai manusia, terkadang kita merasa “orang ini bicara apa sih, tidak jelas”.

Di saat seperti itu, sikap kita cenderung akan menyerang.

Tetapi mari kita menenangkan diri sesaat. Meskipun kita tidak bisa memahaminya,

orang tersebut pasti memiliki alasan tersendiri sampai mengatakan hal tersebut.

Jika tidak dapat memahami pendapat lawan, saya menyarankan untuk

meminta penjelasan dengan tenang dan sejenak memikirkannya bersama.  

 

Yang ketiga, penting untuk senantiasa mengucapkan hal yang

membangun dibandingkan memberikan kritik.

Jika menurut anda ide A tidak baik, daripada mengkritik ide A secara frontal,

berikan ide yang dapat melengkapi kekurangan dari ide A,

atau mengusulkan ide B yang lebih kuat. Di blog internet,

saya sering melihat orang yang saling mengkritik habis-habisan,

tetapi di dunia nyata tidak boleh melakukan komunikasi dalam bentuk seperti itu.

Cara yang “memberikan kritik tetapi tidak mengucapkan satu hal

pun yang membangun”, jika dilihat dari dekat akan menarik seperti menonton

pertandingan gulat. Tetapi jika dilihat apakah hal ini akan membawa

tim ke arah yang lebih baik secara nyata, perlakuan itu menjadi tidak tepat.

 

Panduan-panduan tersebut memang penting untuk selalu diingat.

Tetapi adu argumen tidak dilakukan oleh satu orang, sehingga penting

juga untuk mematuhinya bersama tim secara keseluruhan.

Jika kesulitan karena ada pengacau adu argumen di dalam tim,

ada baiknya untuk menyediakan waktu untuk memeriksa aturan adu

argumen bersama dengan keseluruhan tim.

Jika hal ini terjadi, jangan menyerang orang yang menjadi pengacau

secara personal, tetapi dianjurkan agar “keseluruhan tim berhati-hati”.

 

 

Saya berdoa agar semakin banyak tim yang kuat dengan melakukan

beberapa adu argumen yang bermanfaat. 


Dari Mr. Eitaro Hino
Sehari-harinya menulis artikel mengenai cara kerja orang Jepang di blog yang diberi nama “Blog Datsu Shachiku (berhenti menjadi budak perusahaan)”. Di Blogger’s column, saya berharap bisa memberikan pandangan baru terhadap cara kerja, yang dilihat dari sudut pandang team work.



Ilustrasi : Eiko Matsunaga